TIMES JAMBI, JAMBI – Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi merilis data yang mengungkapkan bahwa Provinsi Jambi telah kehilangan sekitar 2,5 juta hektare hutan dalam kurun waktu 52 tahun terakhir. Saat ini, tutupan hutan yang tersisa hanya 929.899 hektare atau 18,5% dari total luas daratan provinsi tersebut.
Direktur KKI Warsi, Adi Junedi, memperingatkan bahwa angka ini menempatkan Jambi dalam zona kritis ekologis. “Angka ini menempatkan Jambi dalam zona kritis ekologis, yang berpotensi menjadi bencana yang terjadi secara eksponensial dan pemulihannya akan membutuhkan biaya besar serta waktu lama,” ujarnya di Jambi, Rabu (7/1/2026).
Dalam periode 10 tahun terakhir saja, Jambi telah kehilangan 112.372 hektare hutan, setara dengan 10 kali luas Kota Jambi. Adi menyebutkan pemicu utama krisis ini adalah alih fungsi hutan menjadi perkebunan skala besar (terutama sawit), ekspansi pertambangan, serta kebakaran hutan dan lahan.
Aktivitas pertambangan, baik batubara maupun emas, telah merusak bentang alam dan mencemari sungai. Hingga 2025, pertambangan batubara telah membuka lahan sekitar 16 ribu hektare, sementara penambangan emas tanpa izin (PETI) diduga telah merusak lebih dari 60 ribu hektare, hampir tiga kali luas Kota Jambi, bahkan merambah hingga kawasan taman nasional.
Kerusakan hutan ini berkorelasi langsung dengan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. “Dengan kondisi ini, banjir serta longsor menjadi ancaman permanen, bukan sekadar risiko musiman. Jambi hari ini sedang tidak baik-baik saja, dan bencana hanya tinggal menunggu waktu,” pungkas Adi. Hilangnya hutan mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan, sementara material tambang yang masuk ke sungai memperparah potensi luapan. (*)
| Pewarta | : Antara |
| Editor | : Faizal R Arief |